Rekonstruksi Nilai Himmah dan Ukhuwah dalam Penguatan Khidmah GP Ansor pada Momentum Harlah ke-92

unknown 24 - April - 2026
Rekonstruksi Nilai Himmah dan Ukhuwah dalam Penguatan Khidmah GP Ansor pada Momentum Harlah ke-92

Oleh: Dr. KH. Reza Ahmad Zahid, Lc., M.A. (Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri)

Peringatan Hari Lahir Gerakan Pemuda Ansor ke-92 bukan sekadar seremoni tahunan yang bersifat seremonial, melainkan momentum spiritual dan ideologis untuk meneguhkan kembali arah pengabdian kader. Pengajian akbar yang digelar dalam rangka harlah ini menjadi ruang kontemplasi bersama, mengingatkan bahwa setiap gerak langkah dalam berkhidmah harus dilandasi dengan himmah—semangat yang lurus dan tulus—demi limaslahatil ummah, bukan didorong oleh attumukh atau ambisi pribadi.

Di usia yang semakin matang, GP Ansor dituntut untuk terus meningkatkan semangat juang kadernya. Namun, semangat saja tidak cukup. Harlah ini harus dimaknai sebagai momentum muhasabah, sebuah refleksi mendalam terhadap perjalanan organisasi. Prinsip “wal tandzur nafsun maa qaddamat lighad”—hendaknya setiap diri melihat apa yang telah dipersiapkan untuk masa depan—menjadi landasan penting dalam mengevaluasi langkah masa lalu untuk merumuskan arah masa depan yang lebih baik.

Dalam konteks ini, ajaran para ulama, seperti yang disampaikan oleh Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki, menjadi pedoman moral yang relevan: ber-NU tanpa menyakiti yang lain. Ansor hadir bukan untuk memukul, tetapi untuk merangkul; bukan untuk mengadu domba, melainkan untuk menyatukan kekuatan umat dan bangsa. Prinsip ini menegaskan bahwa kekuatan sejati terletak pada ukhuwah—al-ukhuwah sabab al-quwwah—persaudaraan adalah sumber kekuatan.

Lebih jauh, kondisi suatu daerah dapat diukur dari dinamika sosial yang berkembang di dalamnya. Ketika Allah membuka pintu kreativitas, inovasi, dan semangat gotong royong, itu menjadi pertanda adanya keberkahan dan kebaikan. Sebaliknya, jika yang tumbuh justru perdebatan, pertikaian, dan perpecahan, maka hal tersebut menjadi sinyal perlunya perbaikan bersama.

Di sinilah peran strategis GP Ansor diuji. Ansor harus hadir sebagai penengah, sebagai perekat sosial yang mampu meredam konflik tanpa menimbulkan konflik baru. Kader Ansor dituntut menjadi solusi, bukan bagian dari masalah; menjadi peneduh di tengah panasnya perbedaan, bukan justru memperkeruh keadaan.

Harlah ke-92 ini seharusnya menjadi titik tolak untuk memperkuat komitmen tersebut. Dengan himmah yang terjaga, muhasabah yang jujur, serta ukhuwah yang kokoh, GP Ansor akan terus relevan sebagai garda terdepan dalam menjaga harmoni sosial dan keutuhan bangsa.

Baca Juga