PCNU, Lembaga dan Banom NU Kotawaringin Barat Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW

medianukobar 24 - September - 2026
PCNU, Lembaga dan Banom NU Kotawaringin Barat Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW

Media NU Kobar | Kotawaringin Barat — Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kotawaringin Barat bersama lembaga dan badan otonom (Banom) Nahdlatul Ulama memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai momentum untuk memperkuat kecintaan kepada Rasulullah sekaligus meneguhkan semangat pengkhidmatan dalam kehidupan jam’iyyah An-Nahdliyyah.

Ketua Tanfidziyah PCNU Kotawaringin Barat KH. Sayyid Muhammad Sulaiman Nur Basyaiban, M.Pd. dalam sambutan nya mengatakan : Peringatan Maulid Nabi tidak hanya ditempatkan sebagai kegiatan seremonial tahunan, tetapi menjadi ruang refleksi bagi warga Nahdlatul Ulama untuk kembali mempelajari dan menghidupkan keteladanan Rasulullah Muhammad SAW dalam kehidupan pribadi, sosial, maupun dalam menjalankan amanah organisasi.

Dengan mengusung semangat “Meneladani Nabi Muhammad SAW dalam Pengkhidmatan Jam’iyyah An-Nahdliyyah”, kegiatan tersebut mengingatkan bahwa perjalanan jam’iyyah membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan struktur. Ia membutuhkan akhlak, ketulusan, persaudaraan, kesabaran, amanah, serta kesediaan untuk mendahulukan kemaslahatan umat.

Maulid sebagai Momentum Refleksi Jam’iyyah : Nabi Muhammad SAW merupakan teladan utama dalam membangun kehidupan masyarakat yang berlandaskan akhlak dan kasih sayang. Keteladanan tersebut menjadi relevan dalam kehidupan jam’iyyah Nahdlatul Ulama yang sejak awal menempatkan dakwah, pendidikan, sosial, kemasyarakatan, dan penguatan tradisi keislaman sebagai bagian dari khidmah. Ketua Tanfidziyah mengajak kepada seluruh Pengurus tetap guyub dan rukun, dan menutup sambutan nya.

Dalam ceramah Agama yang disampaikan Rais Syuriyah PCNU Kotawaringin Barat Habib Abdurrahman Al Qodri menyampaikan : Dalam konteks organisasi, keteladanan Rasulullah dapat diwujudkan melalui sikap amanah dalam menjalankan tugas, jujur dalam mengelola tanggung jawab, adil dalam mengambil keputusan, serta mengedepankan musyawarah dalam menghadapi perbedaan.

Sebab, semakin besar amanah yang diberikan kepada seseorang dalam jam’iyyah, semakin besar pula tanggung jawab moral untuk menjaganya.

Dari Struktur Menuju Khidmah : NU merupakan jam’iyyah yang memiliki struktur berlapis, mulai dari tingkat pusat hingga daerah dan akar rumput. Keberadaan lembaga dan Banom menjadi bagian penting dalam menjalankan berbagai bidang pengkhidmatan.

Namun struktur hanyalah instrumen. Ruh utama dari keberadaan jam’iyyah adalah khidmah.

Karena itu, peringatan Maulid Nabi menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bahwa setiap posisi dalam organisasi pada dasarnya merupakan amanah untuk memberikan manfaat.

Ketua, sekretaris, bendahara, pengurus lembaga maupun Banom, hingga para kader dan warga NU memiliki ruang pengabdian masing-masing. Tidak ada pengkhidmatan yang terlalu kecil apabila dilakukan dengan ikhlas, dan tidak ada jabatan yang terlalu tinggi untuk disebut sebagai amanah.

Meneladani Akhlak Rasulullah dalam Berorganisasi : Kehidupan jam’iyyah tidak selalu berjalan tanpa perbedaan. Perbedaan pandangan, gagasan dan cara membaca persoalan merupakan bagian dari dinamika organisasi. Yang perlu dijaga adalah bagaimana perbedaan tersebut tetap berada dalam bingkai ukhuwah, tabayun, musyawarah dan akhlakul karimah.

Rasulullah SAW mengajarkan bahwa kekuatan masyarakat tidak hanya dibangun melalui aturan, tetapi juga melalui keteladanan dan akhlak.

Dalam kehidupan NU, nilai tersebut dapat diterjemahkan menjadi budaya organisasi yang mengedepankan dialog daripada pertentangan, tabayun daripada prasangka, musyawarah daripada pemaksaan, serta persaudaraan daripada kepentingan kelompok. Dengan demikian, Maulid Nabi dapat menjadi momentum untuk memperbaiki cara warga jam’iyyah berinteraksi satu sama lain.

Merawat Jam’iyyah dengan Akhlak : Penguatan jam’iyyah tidak cukup hanya dilakukan melalui pembenahan administrasi dan struktur organisasi. Ia juga membutuhkan pembenahan budaya berorganisasi. Budaya saling menghormati, menghargai perbedaan, menjaga lisan, memenuhi amanah, serta tidak menjadikan jabatan sebagai ruang untuk kepentingan pribadi merupakan bagian penting dari pengkhidmatan. Keteladanan Nabi Muhammad SAW memberikan pesan bahwa kekuatan dakwah tidak dapat dilepaskan dari akhlak orang-orang yang menjalankannya.

Karena itu, semakin besar cita-cita pengkhidmatan NU, semakin kuat pula kebutuhan untuk menghadirkan kader-kader yang memiliki integritas dan keteladanan.

Disela-sela acara PCNU Kotawaringin Barat menyerahkan mandat kepada Gus Rochim untuk membentuk Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Nahdlatul Ulama Kotawaringin Barat dengan pesan : Menyatukan Langkah dalam Khidmah dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW oleh PCNU Kotawaringin Barat bersama lembaga dan Banom NU menjadi pengingat bahwa perjalanan jam’iyyah merupakan perjalanan bersama. PCNU, lembaga, Banom, pesantren, para ulama, kiai, kader, dan seluruh warga Nahdliyin memiliki peran masing-masing dalam menjaga keberlangsungan pengkhidmatan.

Spirit Maulid mengajak seluruh elemen tersebut untuk kembali kepada satu kesadaran: bahwa ber-NU bukan sekadar menjadi bagian dari sebuah struktur organisasi, tetapi mengambil bagian dalam sebuah tradisi panjang pengkhidmatan kepada agama, masyarakat, bangsa dan kemanusiaan.

Meneladani Nabi Muhammad SAW berarti berusaha menghadirkan nilai-nilai kenabian dalam kehidupan nyata: amanah, kasih sayang, kejujuran, kesabaran, keberanian menegakkan kebaikan, dan kemampuan merangkul sesama. Pada akhirnya, Maulid Nabi bukan hanya tentang mengingat kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga tentang bagaimana menghadirkan keteladanan beliau dalam setiap langkah kehidupan.

Dan bagi jam’iyyah Nahdlatul Ulama, keteladanan itu menemukan bentuknya dalam khidmah yang tulus, organisasi yang beradab, persaudaraan yang kokoh, serta perjuangan yang senantiasa berpihak pada kemaslahatan umat.

“Mencintai Rasulullah SAW bukan hanya dengan memperbanyak pujian kepada beliau, tetapi juga dengan berusaha meneladani akhlaknya dalam setiap pengkhidmatan.” Habib Abdurrahman Al Qodri menutup ceramahnya.

Kontributor : Abdul Joni Saputra & Bachtiar Editor : Alfiannur


Baca Juga